Mengurai Definisi Bahasa

Asslamualaikum…

Bicara tentang bahasa memang tidak pernah ada habisnya, bagaikan menghitung jumlah pasir yang ada di lautan. Bukan berarti bahasa mustahil untuk dikaji, tetapi justru akan membuat kita akan lebih semangat dalam mengurai tabir-tabir bahasa. Paling tidak, kita bisa memahami satu aspek saja terlebih dahulu, sebelum beralih pada ribuan aspek lainnya. Satu aspek yang maksudkan ialah aspek definitif. Maka pertanyaan yang mungkin sangat layak untuk dilontarkan pertama kali adalah; apa yang dimaksud dengan definisi? dan apa bahasa itu?

Apa definisi itu?

Definisi adalah pertanyaan yang menunjukkan ciri-ciri kunci sebuah konsep. ciri-ciri ini fariatif; tergantung pada anda dalam memahaminya mengenai rancang-bangun konsep. Dan yang terpentin, pemahaman itu pada dasarnya adalah sebuah teori yang menjelaskan rancang-bangun konsep tersebut. Dengan demikian definisi bisa dipandang sebagai versi padat dari sebuah teori. Oleh karena itu, pendefinisian adalah perkara serius; yang mengharuskan kita aspek-aspek apa saja yang layak disertakan. (H. Douglas, terj. Noor Cholis, 2008, 5-6).

Ada contoh menarik yang diberikan Douglas terkait dengan pengertian defini di atas; dia mengibaratkan anda suatu hari dicegat oleh seorang reporter, dia berkata kepada anda: Kerna anda berminat pada studi-studi tentang pemerolehan bahasa kedua, saya mohon nada definisikan apa itu bahasa dalam satu atau dua kalimat saja?”. mendengar pertanyaan ini, saya yakin anda akan menguras dan memeras ingatan untuk menemukan formulasi yang tepat dalam mendefinisikan bahasa bergaya kamus. jawab dari pertanyaan tersebut sangat mencerminkan seberapa luas pengetahuan anda tentang bahasa, dan sekaligus mencerminkan pemahaman anda tentang apa yang dipelajari oleh pakar linguistik selama ini.

pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting adalah:

Apa bahasa itu?

menurut bahasawan klasik dari Timur Tengah; Ibnu Jinni: bahasa adalah serangkaian wicara yang dijadikan sebagai alat oleh suatu komunitas untuk mengekspresikan keinginannya”. pendapat lain menyatakan: bahasa adalah lafadz yang dijadikan alat oleh suatu komunitas untuk mengekspresikan keinginan dan dan tujuan mereka (Al Ghulayainy, 2008,h 1).

Definisi  bahasa di atas meletakkan bahasa sebagai suatu alat yang fungsional, dengan alat ini manusia (dalam suatu konstruk sosial) saling berkomunikasi dan berekspresi.

Menurut Pingker, yang dikutip oleh Douglas; bahasa merupakan keterampilan khusus yang kompleks, berkembang dalam diri anak-anak secara spontan tanpa ada instruksi secara formal, dipakai tanpa memahami logika yang mendasarinya, secara kualitatif sama dalam diri setiap manusia, dan berbeda dari kecakapan-kecakapan lain yang bersifat umum dalam hal memproses informasi atau berprilaku secara cerdas. (ibid, h 6)

Kalau diamati secara seksama spertinya definisi yang ditawarkan oleh Pingker lumayan kompleks, di dalamnya hampir mencakup lapisan-laisan linguitik, sehingga definisi tersebut berpotensi melahirkan definisi-definisi lain, yang menurut Douglas disebut “definisi cabang”, berikut ini cabang-cabangnya:

(1) bahasa itu sistematis

Artinya; bahasa memiliki beberapa sistem yang saling berkaitan, di antara sistem-sistem bahasa adalah sistem fonetik, sistem sistaks, sistem morfologis, dan sistem semantis, dari keempat isitem ini (beserta sub-sub yang ada di dalamnya) membentuk satu kesatuan yang utuh, yang dalam hal ini disebut dengan bahasa.

(2) bahasa adalah seperangkat simbol yang arbitrer

Pengertian ini mengingatkan kita pada konsep bahasa yang ditawarkan oleh bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure. Dia menyatakan: “setiap kata memiliki simbol, dan setiap simbol bersifat arbitrer”. ini berarti simbol-simbol yang ada di dalam bahasa (fonetik, sintaks, morfologi, dan semantik) bersifat suka-suka, terganting pengguna simbol itu sendiri. karena itu tidak jarang satu kata atau kalimat mengundang banyak makna (meaning) dan pesan.

(3) Simbol-simbol itu utamanya vokal, tetapi bisa juga visual.

pengertian ini mengacu pada bahasa yang digunakan manusia pertama saat di dunia, yaitu bahasa lisan. mulai dari fase tangisan bayai yang mengandung pesan, celotehannya yang mengandung arti dan tujuan, dan seterusnya. hingga mereka mampu berkata-kata dan berwacana dengan baik dalam suatu komunikasi verbal. di samping itu bahasa juga mencakup simbol-simbol yang non verbal, misalnya mimik (ekspresi muka; marah, sedih, senang, gunda) yang kesemuanya itu mengandung pesan tersendiri.

(4) Simbol mengonvensionalkan makna yang dirujuk

pengertian ini juga mengingatkan kita pada konsep ferdinan tentang makna (signifiant dan signifie) yang kemudian dikembangkang oleh Ricard dan Ogden, menjadi segitiga makna.  setiap simbol bahasa yang digunakan oleh manusia mengandung arti dan pesan tersendiri bagi penuturnya demikian juga lawan komuniknnya. sehingga dengan makna yang dilahirkan dari simbol tersebut manusia bisa berinteraksi dengan sesamanya.

(5) bahasa digunakan untuk berkomunikasi

Artinya, setiap bahasa pasti memiliki fungsi, dan fungsi umum dari setiap bahasa adalahsebagai alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama manusia dalam komunitas tertentu.

(6) bahasa beroprasi dalam sebuah komunitas atau budaya wicara.

Masing-masing bahasa memiliki ruang dan lingkup tersendiri, ia berada dan gunakan oleh komunitasnya, membetuk sebuah konstruk wicara dengan berbagai ciri-cirinya, dari konstruk ini kemudian membentuk konstruk sosial dan budaya tertentu, yang tentunya mencerminkan prilaku dan corak berfikir pengguna bahasa tersebut, sampai akhirnya membentuk peradaban suatu komunitas. konsep inilah yang menurut saya setiap bahasa memiliki relatifitasnya sendiri.

(7) bahasa pada dasarnya untuk manusia, tetapi adalakalanya juga digunakan oleh makhluk selain manusia (baca bahasa kita suci al-Qur’an) .

(8) bahasa dikuasai oleh semua orang dan dengan cara yang sama

Artinya, bahasa itu bisa dipelajari dan diajarkan. Menurut pengertian ini, bahasa dan pembelajaran sama-sama memiliki karakteristik universal, tetapi pernyataan ini masih dalam tanda kutip besar, karena tidak semua bahasa memiliki karakter sama. (bandingkang antara grammar bahasa Indonesia dan Arab).

Setelah kita amati semua cabang-cabang di atas, harus saya katakan sekali lagi bahwa definisi yang ditawarkan oleh Pingkar cukup representatif, ini jika dibandingkan dengan definisi-definisi para pendahulunya, yang lebih menekankan pada aspek tertentu saja dalam mendefinisikan bahasa.

Saya kira cukup sampai di sini saja artikel ini, anda bisa mengembangkan lagi.Semoga bermanfaat…

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s